Kamis, 06 Januari 2022

6 Januari 2022

Allah...
Aku tlah gagal dalam menentukan pilihan. Hingga aku jatuh dalam lubang kenestapaan. Bahkan aku hampir tiap malam menangisinya.

Allah...
Namun, di sisi lain, aku tlah mempunyai dua tunas yang akan terus tumbuh tanpa menunggu jiwaku kembali sehat.
Mereka amanahMu yang kelak akan kupertanggungjawabkan.

Allah...
Aku tlah jatuh, namun kenyataan hidup aku harus terus bangkit.
Aku harus tetap kuat, untuk kedua putriku.
Mereka butuh sosok ibu yang bisa mereka teladani, tempat mereka bernaung.

Allah...
Hamba memohon penguatan dan Perlindungan Mu agar hamba bisa mendidik dan menjaga anak hamba.

Allah...
Engkaulah satu-satunya harapan hamba. Keyakinan hamba kuat atas pertolongan dan penjagaanMu.

Kamis, 26 Maret 2020

Muak

Hari ini fiks bagiku untuk menangisi ketidakberdayaanku atas diriku sendiri. Aku benar-benar berada pada posisi dimana aku tak kuasa untuk mempertahankan keinginanku sendiri. Aku merasa usia yang semakin bertambah tidak menjadikanku bisa berkuasa atas mauku.
Kenapa? Kenapa aku masih saja dicampurtangani oleh kedua orang tuaku? Kenapa keadaan selalu saja tak pernah berpihak padaku? Kenapa aku tidak diberi kesempatan untuk memilih mauku sendiri? Kenapa aku harus selalu menuruti mau mereka?
Ya Allah, sungguh ini tidak adil!
Aku benci dengan keadaan seperti ini.
Mulai dari aku tamat kuliah, menikah, memilih pekerjaan, hingga punya anak. Kenapa masih saja mereka yang mengatur.
AKU TIDAK SUKA!!!
Sekali saja aku menyatakan mauku apa, dibilanglah aku tidak tahu apa-apa. Kenapa mereka begitu arogan? Bukankah semua saran mereka tak melulu harus kuikutin?
AKU MUAK!!!

Kamis, 30 Januari 2020

Melahirkan Maziya

Assalamualaikum wr wb...

Hari ini ku mau bercerita tentang aku yg akhirnya terlahir kembali menjadi seorang ibu. Rasanya bahagia banget ketika ku menuliskan ini semua. Semoga dengan ini aku semakin bersyukur atas segala nikmat dan amanah yg Allah berikan padaku khususnya.

...

Di januari 2019, ku mulai merasakan tanda-tanda kehamilan. Mulai dari hasil tespack yg menunjukkan garis dua, lalu di minggu selanjutnya aku merasakan morning sickness. Hingga kehamilan pun tampak jelas dengan perutku yg semakin membesar.
...

Berdasarkan perhitungan melalui HPHT dan USG pertama kali aku di UK 16W, perkiraan lahiran (HPL) aku pada tanggal 16 Oktober 2019. Hingga hari itu tiba, tanda-tanda persalinan pun belum tampak. Aku mulai khawatir dan deg degan sembari berusaha menenangkan diri. Karena yang aku tahu bahwa HPL adalah hari perkiraan lahir, bukan hari pasti lahir ataupun hari paksa lahir. Dari berbagai sumber disebutkan bahwa kurang lebih 4% saja dari ibu hamil yang melahirkan sesuai dengan hari perkiraan lahirnya.
Di sebuah grup  whatsapp, aku bertemu dengan seorang kakak yang saat itu tengah hamil juga dan memiliki HPL yang sama denganku. Aku dengannya saling sharing. Terlebih aku sebagai calon ibu pemula yang belum punya pengalaman apa-apa. Kita berdua sama-sama mulai khawatir ketika HPL tiba, namun tak satupun dari kami yang tampak hendak melahirkan. Selain itu, aku juga memohon dukungan dan doa dari teman-temanku yang menanyakan apakah aku sudah lahiran atau belum.
Hari Sabtu tanggal 19 Oktober 2019, pagi harinya suamiku mengajak pergi USG yang bertujuan untuk mengecek kondisi kandunganku yang sudah lewat HPL dan berkonsultasi dengan dsog mengenai upaya apa saja yang bisa dilakukan hingga persalinan tiba. Menurut observasi dokter, keadaan kandunganku baik semua. Dokter memberiku waktu hingga tanggal 23 Oktober 2019 untuk menantikan waktu persalinan. Tanggal 21/22 Oktober 2019, aku diminta untuk datang kembali dengan membawa surat rujukan. Setibanya nanti di rumah sakit, dokter bisa observasi lalu menentukan tindakan apa saja yang hendak diambil. Aku mulai dag dig dug tak karuan. Aku merasa sangat takut sekali jika berujung dengan operasi. Aku belum bisa membayangkan bagaimana sakitnya nanti dan proses pemulihannya yang ku tahu lebih lama dibandingkan dengan lahiran normal. Kami pun pulang dengan pikiran masing-masing. Suamiku berusaha menguatkan apapun yang terjadi semoga menjadi yang terbaik untuk aku dan bayi kami.
Sore hari ketika aku sedang duduk santai di rumah, bidan yang biasa tempat ku kontrol kandungan datang. Beliau menanyakan kondisi kandunganku. Beliau juga mengatakan bahwa ia tergerak datang ke rumah karena belum mendapatkan kabar lahiran dariku. Sebelumnya aku memang sudah memutuskan untuk melakukan persalinan di Polindes tempat beliau bekerja. Aku lalu menceritakan semua saran yang disampaikan oleh dokter tadi pagi. Lalu aku disuruh untuk meminta surat rujukan ke puskesmas hari Senin, dan kembali lagi ke rumah sakit seperti yang disarankan dsog. Setelah memberikan penguatan padaku, buk bidan pun pulang.
Malam harinya aku sedang tidak bersama suamiku. Suamiku pergi pulang ke rumah ibunya untuk mengerjakan beberapa hal disana. Mumpung sendiri, bisa bersosial media lebih lama. Hheee.. Akupun chattingan dengan seorang temanku yang sudah duluan lahiran. Akupun menceritakan kondisi kandunganku. Lalu dia menyarankan beberapa hal yang bisa aku usahakan agar segera lahiran mengingat UK aku sudah memasuki 40w4d. Kita bisa lakukan induksi alami untuk merangsang agar terjadinya kontraksi menuju persalinan, ujarnya. Aku mengucapkan terima kasih dan meminta didoakan untuk kelancaran persalinanku.
Usai chattingan akupun beranjak tidur. Aku ambil air wudhu' kemudian berdo'a agar dimudahkan persalinan nanti dilanjutkan dengan do'a sebelum tidur.
Sekitar jam 2 dini hari, aku mulai merasakan pegal-pegal di pinggang. Kucoba untuk menahannya dengan berbolak balik diatas kasur, sesekali rasa itu hilang, sesekali datang lagi. Entah kenapa iseng saja pikiranku kalau itu namanya kontraksi, namun masih belum menyadari kalau itu adalah tanda-tanda hendak melahirkan. Kucoba gunakan aplikasi penghitung kontraksi, akan tetapi aku malah ketiduran sehingga hitungannya pun tak akurat.
Tak lama kemudian, pegal-pegal yang disertai nyeri itu datang lagi. Aku memutuskan untuk bangun lalu melaksanakan shalat tahajud yang kupikir waktu itu adalah solusi untuk menghilangkan pegal-pegal tersebut. Rakaat demi rakaat, ternyata pegal-pegal tersebut masih terasa dan akupun memilih untuk membaca surat yang cukup panjang sambil berusaha untuk khusyu' agar aku tak merasakannya lagi.
Selesai shalat, akupun mencoba untuk tidur kembali. Namun, sepertinya rasa pegal-pegal yang disertai nyeri tersebut tak bisa diajak kompromi. Alhasil, aku hanya bisa membolak balikkan badan diatas kasur untuk sekedar menghilangkan nyerinya.
Hingga shubuh pun tiba, aku masih terjaga dengan nyeri yang intervalnya lebih intens dibandingkan tengah malam tadi. Seperti biasa, aku dan mama pergi shalat shubuh ke masjid dengan berjalan kaki, hitung-hitung sebagai ganti olahraga aku. Adapun rasa nyeri itu masih saja terasa. Aku masih tetap berusaha untuk bertahan. Aku juga belum mengatakannya pada mama.
Sepulang dari masjid, mama mengajakku dan adik pergi melihat jalan yang baru dibangun yang dapat menghubungkan jorong kami hingga ke Nagari Kubang. Akupun mengiyakan, lagi-lagi ini sebagai ikhtiar aku menjelang persalinan tiba. Perjalanannya cukup jauh. Sementara aku sesekali masih merasakan nyeri tersebut. Dan anehnya, nyeri itu sangat terasa jika aku hanya berdiam diri. Tapi jika kubawa bergerak, nyerinya pun hilang. Kami bertiga terus berjalan dengan santai sampai di tempat tujuan kami. Setelah berfoto beberapa kali cekrek, aku merasakan nyeri yang semakin intens jika berdiam diri. Akupun mengatakan pada mama dan adikku. Kami pun kembali pulang. Sebelum sampai di rumah, kami mampir di sebuah warung untuk membeli gorengan. Yaa maklum, sehabis jalan kan jadinya lapar. Hhee
Sesampainya di rumah, kami pun istirahat. Aku coba duduk untuk melepas lelah berjalan dengan membawa beban di perut yang semakin besar. Menurut hasil USG, perkiraan berat janinku waktu itu sekitar 3,3 Kg. Setelah sarapan, maunya aku bersantai ria. Sayangnya, nyeri di pinggang tak kunjung hilang. Aku bawa berjalan lagi mengelilingi halaman rumah untuk menghilangkan nyeri tersbeut. Setelah terasa hilang, akupun duduk untuk istirahat. Akan tetapi tak lama duduk, nyeri itu datang lagi. Aku berjalan kembali mengitari halaman rumah. Begitulah terjadi hingga waktu zuhur tiba.
Ada satu hal yang sebenarnya harus ku kerjakan, yakni mengisi rapor MID Semester 1. Waktu itu nilai yang belum masuk tinggal satu mapel. Saat aku hendak mengerjakannya, rasa nyeriku kembali datang. Dan akhirnya aku pun tak bisa mengerjakannya lagi.
Sekitar jam 8 pagi, suamiku pulang. Kukatakan kalau aku sekarang sering merasakan nyeri di pinggang. Aku disuruh untuk tiduran. Lalu ku katakan bahwa aku tak bisa tidur nyenyak karena nyeri itu terasa kalau aku hanya berdiam diri, sedangkan jika aku bergerak seperti dibawa jalan maka nyeri itu akan hilang.
Sepanjang menahan rasa nyeri tersebut, aku coba menguasai diri dengan beranggapan bahwa ini nyeri biasa bukan kenapa-kenapa. Aku masih saja belum mengetahui bahwa itu tanda-tanda hendak melahirkan. Sebagai penghilang nyeri aku berjalan mengitari halaman rumah sembari berdzikir dan membaca surat-surat hafalanku. Sesekali aku duduk karena lelah. Namun yaaa seperti itu, nyeri yang dirasa semakin intens sehingga aku tak cukup waktu untuk istirahat.
Hingga waktu zuhur tiba, mama menyuruhku untuk menghubungi bu Nofi, bidan yang biasa memeriksa aku. Aku disuruh ke tempat bidan untuk mengecek keadaan aku. Barulah disitu aku menyadari bahwa aku hendak melahirkan. Kemudian aku pergi ke kamar mandi untuk mandi. Sewaktu buang air kecil terlihat ada lendir berwarna kecoklatan. Lho, kok bisa begitu pikirku.
Selesai mandi, mama bertanya apakah aku kuat untuk sholat lalu kujawab aku kuat. Justru dengan sholat nyeri itu hilang, sambungku. Selesai sholat aku makan namun aku tak bisa duduk. Aku makan sambil jalan-jalan. Maafkan aku ya Allah, rilihku dalam hati.
Lalu kami pun bersiap-siap hendak ke polindes. Saat kami bersiap-siap hendak ke Polindes, mama berpesan pada abang untuk mengabarkan keadaan ku. Jika sudah waktunya melahirkan, nanti hospital bag ku akan diantarkan kesana. Kami pun berangkat. Bismillah, ucapku dalam hati.
Sesampainya di Polindes, bu Nofi memintaku untuk masuk ke ruang persalinan untuk diVT. Setelah dicek ternyata sudah bukaan 4. Masyaallah, sebentar lagi aku akan melahirkan. Lagi-lagi aku masih belum menyangka akan menghadapi hal yang mempertaruhkan nyawa ini. Lalu abang mengabarkan hal itu pada mama.
Datanglah mama dan papa membawa hospital bag ku. Setelah dipikir-pikir,aku tak jadi balik ke rumah. Aku memilih tetap di tempat bidan hingga bukaan lengkap. Aku lalu terus berjalan di samping polindes tersebut agar bukaan segera lengkap. Sambil berjalan itu, papa mengingatkan aku untuk makan. Lalu pergilah abang membeli sate. Akupun makan sate itu sembari disuapin abang dan tetap berjalan karena nyeri yang tak mengizinkan aku untuk duduk.
Hingga waktu ashar pun tiba, aku beranjak sholat. Saat itu aku masih sanggup untuk sholat. Dengan keadaan yang tak bisa lama-lama dalam satu posisi, akupun tak bisa memperpanjang sholatku. Selesai sholat, bidan pun melakukan vt kembali. Ternyata bukaannya terus menambah menjadi 7. Bidan pun mengatakan agar menunggu hingga bukaan lengkap. Setelah itu aku sudah tak sanggup lagi untuk berjalan. Akupun disuruh untuk tidur miring ke kiri. Aku berusaha untuk tetap mengatur nafas agar nyerinya tidak terlalu terasa.
Sampailah waktu maghrib tiba, aku sudah tak sanggup lagi untuk sholat. Saat itu bidan melihat perutku seperti penuh hendak buang hajat. Lalu beliau menyuruhku untuk ke kamar mandi bila ingin BAK atau BAB. Lalu akupun pergi ke kamar mandi meskipun tak ada keinginan untuk buang hajat. Eh entah kenapa sesampai di kamar mandi aku malah ingin BAB, yang artinya aku pasti mengejan sementara bidan berpesan agar aku jangan mengejan dulu sebelum waktunya tiba. Hhaa.. Ternyata aku salah kaprah. Mengejan saat BAB dengan saat melahirkan pastinya beda dong. Saat itu aku mendengar ada suara dentuman bak kaca yg pecah. Entahlah itu suara apa, pikirku.
Selesai buang hajat, aku kembali ke kamar persalinan. Kemudian bidan pun melakukan VT kembali dan ternyata bukaannya sudah lengkap dan aku sudah waktunya untuk melahirkan. Bu bidan pun menelvon teman bidannya untuk membantu prose persalinanku.
Sesampainya di polindes, temannya bu bidan pun melakukan vt. Dan ternyata kepala si bayi masih jauh menggantung dari jalan lahir. Aku disuruh untuk tidur miring ke kiri. Beliau mengatakan untuk menunggu hingga jam 9 malam, jika si baby belum juga turun ke jalan lahir maka aku akan dirujuk ke RSKIA. Lalu beliau pun kembali ke rumahnya.
Sekitar jam 7 malam, bu bidan melakukan vt kembali dan ternyata kepala si baby sudah turun. Beliau lalu menelvon kembali teman bidannya. Beberapa saat kemudian, beliau meminta abang untuk menjemput temannya bu bidan.
Tak lama setelah itu, semua peralatan sudah siap, pakaian si baby pun sudah disiapkan, dan aku diminta untuk mengumpulkan nafas dan tenaga agar bisa mengejan. Dalam kurun waktu lebih kurang 15 menit dengan empat kali mengejan, akhirnya my baby girl terlahir ke dunia.
Aku mengejan amat kuat di kali terakhir, akibatnya si baby langsung keluar dengan kondisi tali pusar yang pendek. Hmm, apa karena tali pusar yang pendek ini yang membuat setiap makanan yang kumakan tidak lagi terserap oleh tubuhku, melainkan banyak disalurkan ke si baby? Karena selama hamil, bentuk body ku masih kurus2 gitu aja, tidak seperti ibu-ibu yang lain yang kelihatan gemuk saat hamil. But, dari kesemua itu aku tetap bersyukur akhirnya drama melahirkan pun berakhir dengan nyaman walaupun dapat bonus jahitan yang cukup banyak.

...

Alhamdulillah, akhirnya aku dapat menghembuskan nafas dengan lega. Abang, mama, papa, adikku semuanya terlihat bahagia atas kelahiran anggota keluarga baru kami.

...

Aku belajar banyak hal dari momen yang tak terlupakan ini. Aku berjanji takkan berbuat hal yang dapat menyakiti hati kedua orang tuaku, terkhusus pada mama yang telah berjuang melahirkanku dulu.

Semoga Allah membalas semua amal baik dan perjuangan mama dan papa. Aamiin.

Jumat, 25 Januari 2019

Tunggu Bunda Ya, Nak

Assalamualaikum anak Bunda tersayang...

Apa kabar dirimu disana? Bunda harap dirimu baik-baik saja ya. Bunda yakin saat ini dirimu tengah tersenyum menatap Bunda yg masih berproses untuk merelakan kepergianmu sayang.

Nak, hari ini tanggal 25 ya. Bunda ingat empat bulan yg lalu di tanggal yg sama Bunda datang ke sebuah klinik di Payakumbuh. Saat itu Bunda mengeluhkan soal flek darah yg keluar beberapa hari. Bunda takut dan cemas waktu itu. Bunda takut sekali nak, jika terjadi apa-apa pada dirimu. Bunda yakin kamu tahu betul bagaimana perasaan Bunda saat itu.

Bak petir di siang bolong, ucapan dokter yg memvonis bahwa janin Bunda tidak berkembang membuat tulang belulang Bunda remuk seketika, nak. Bunda sedih, hati Bunda hancur nak. Kebahagiaan Bunda terenggut seketika. Bunda merasa kecewa pada diri Bunda sendiri. Mungkinkah semuanya karena Bunda tak bisa menjagamu dengan benar? Maafkan Bunda ya nak. Kebersamaan sepertinya takkan berlangsung lama. Itu yg Bunda rasakan meski belum sepenuhnya dirimu akan pergi begitu saja. Bunda berusaha untuk tetap tegar menghadapi kenyataan. Bunda masih punya harapan di dua pekan ke depan. Bunda masih berharap kamu akan baik-baik saja nak.

Namun, apa yg hendak dikata nak. Keesokan harinya Bunda merasakan sakit di sekitaran perut dan pinggang Bunda. Kekhawatiran Bunda memuncak. Dan ternyata itu adalah tanda bahwa dirimu akan pergi meninggalkan Bunda selamanya.
Maafkan Bunda nak. Saat itu Bunda tak berani melihat wujudmu hingga Bunda tak sempat menguburkan dirimu. Bunda sedih, kecewa, menyesal, dan semua rasa yg bercampur aduk membuncah di hati Bunda.

Bunda menangis saat itu, nak. Kau pasti lihat airmata Bunda melepas kepergianmu kan?

Bunda larut dalam kesedihan, terlebih saat itu Bunda harus berjuang sendiri menanggung sesak di dada Bunda. Kala itu ayahmu masih di perantauan untuk mencari nafkah buat kita nak. Maafkan juga ayahmu nak yg tak mendampingi kepergianmu.

Anakku, dengan terus mengupayakan pikiran yg jernih, Bunda berusaha untuk menerima takdir ini nak. Bunda tak ingin dirimu bersedih karena Bunda menyesali keadaan yg menimpa kita.

Sehari setelah kepergianmu, saat itu dibuka pendaftaran CPNS. Bunda mencoba menguatkan diri Bunda. Bunda daftarkan diri untuk mengikuti seleksi itu, meskipun pikiran dan raga Bunda masih jauh melayang menyusul kepergianmu. Bunda bertekad untuk bangkit dari keterpurukan. Kau lihat kan betapa Bunda bersemangat waktu itu? #senyum

Ketika proses pendaftaran hingga seleksi yg Bunda lewati dan membuahkan hasil dengan kelulusan Bunda, banyak kalimat yg terlontar dari teman-teman Bunda bahwa semua ini adalah rejekinya dirimu.

"Selamat ya, ini rezeki dedek dalam perut"

Nak, kau tahu. Kalimat serupa yg Bunda terima sungguh menyayat hati Bunda nak.
Bunda kembali teringat saat bahagia Bunda melihat hasil positif testpack dan hasil usg bahwa dirimu hadir di rahim Bunda. Namun sayang sekali, ketika Bunda lulus CPNS ini, kau sudah tiada nak. Bunda takkan menyalahkan siapapun lagi. Karena Bunda yakin, semuanya adalah takdir Allah. Akan slalu ada hikmah di setiap kejadian yg menimpa kita. Kehadiran dan kepergianmu tlah menjadikan Bunda untuk selalu husnuzhan pada takdir Allah.

Bunda harap dirimu ikut bahagia dengan berita ini ya nak. Tunggu Bunda disana. Doakan Bunda nak agar Bunda segera dikaruniai adik-adikmu yg shalih dan shalihah yg nantinya akan menjadi temanmu di syurga Allah.

Tunggu Bunda ya nak...

Allohummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu anhu.
_____
25 September 2018
25 Januari 2019
Penuh cinta Bunda untukmu ananda tersayang. 💕💕💕

Jumat, 03 Agustus 2018

Curhat #1

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bicara soal cinta, mungkin sudah tak asing lagi bagi kita semua. Namun saja, yang berbeda adalah definisi dari cinta itu sendiri. Setiap kepala tentunya memiliki definisi cinta tersendiri. Termasuk saya yang masih fakir ilmu.

Saat aku ingin menuliskan ini, yang terpikirkan olehku adalah dua hal yang saling berkaitan yakni cinta dan iman. Sudah sering kita mendengar bahwa cinta adalah anugerah dari Tuhan untuk tiap-tiap manusia. Yang dengannya menjadikan kehidupan manusia menjadi terasa lebih indah. Aku persempit ruang bahasannya yaitu cinta pada lawan jenis.

"Sayang, aku cinta kamu. Aku sangat menyayangi dirimu. Kau tahu, kamu adalah penyemangatku. Kehadiranmu membuat hidupku menjadi sangat berarti"

Mungkin demikianlah dari sekian banyak kalimat-kalimat cinta brrnafaskan romantis yang diucapkan seseorang kepada pasangannya. Hanya saja, ada hal yang menjadi sorotan yakni pengucapannya kapan dan kepada siapa kalimat itu dilontarkan.

Ada yang mengucapkannya pada kekasihnya atau yang biasa disebut "pacar". Ada juga yang mengatakannya pada pasangan halalnya, baik suami maupun istri. Terkadang, diri kita lupa bahwa fitrah yang Allah anugerahkan kita, CINTA, memiliki ketentuan yang mesti diperhatikan agar kita tak salah langkah. Bak kata para penulis yang teramat puitis, tak semua orang bisa menahan gejolak cinta yang datang tiba-tiba. Sesaatnya rasa itu muncul, ketika itu juga ingin segera diungkapkan padanya, pujaan hati.

Tapi sayang demi sayang. Ketentuan Allah berlaku untuk setiap anugerah yang diberikan pada hambaNya. Cinta bukan untuk diunhkapkan secara serta merta. Pengungkapan cinta mesti pada seseorang yang tepat dan di waktu yang tepat.

Siapakah seseorang yang tepat?
Dia adalah orang yang telah Allah takdirkan untuk mendampingi hidup kita, menjadi teman dalam suka dan duka, serta sahabat untuk menggapai syurgNya. Seperti yang disampaikan oleh Nabi kita tercinta, "tidak ada yang lebih baik bagi dua orang yang saling jatuh cinta kecuali menikah". Dilanjutkan dengan sabda beliau lainnya, "ketika seseorang menikah, maka dia tlah menggenapkan separuh agamanya, maka bertakwalah di separuh lainnya". Pesan sayang dari beliau bahwa cinta hanya diungkapkan pada seseorang yang tlah kita nikahi. Karena itulah cinta yang sebenarnya.

Lalu, apa itu waktu yang tepat?
Waktu memang bak ujung pedang yang sewaktu-waktu bisa saja melukai pemegangnya. Tapi tidak pada mereka yang bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Adapun waktu yang tepat adalah saat dimana ijab dan qabul selesai diucapkan. Di hadapan penghulu, wali nikah, dan saksi, perjanjian kuat ini dapat mengguncang arsy. Saat itulah, cinta layak untuk diungkapkan.

Sedikit ini ku bercerita tentang bagaimana pernikahanku bisa berlangsung di tanggal 28 Juni 2018 lalu.

Hari itu, kebetulan hari ahad saat aku memiliki agenda tes microteaching di SMA IT Insan Cendekia Boarding School. Pagi itu mungkin saja bagian dari hari-hari terpasrah aku menjalani hidup. Berbagai persoalan pribadi maupun keluarga menyatu bak adonan pergedel. Sampailah aku pada pengharapan ingin segera mengakhiri persoalan yang sebenarnya tentang rasa.


Beberapa menit menjelang giliranku, aku mendapat pesan whatsapp dari seorang rekan ngajarku di SMA N 2 kecamatan Bukik Barisan. Tak perlu lah kusebutkan disini namanya. Lebih kurang isi pesannya, "ada seseorang yang ingin ta'arufan dengan dirimu, dek". Sontak aku kaget sekaligus menggigil. Apalagi saat itu tengah bulan puasa, dan memang saat-saatnya lapar. Berlanjutlah chattinganku dengan beliau setelah aku maju tes microteaching. Dengan perasaan yang campur aduk. Ditambah pikiran yang tak menentu. Akupun pulang ke rumah.

Chattingan masih tetap berlanjut dengan isinya yang penuh tanya dan jawab. Hingga kemudian, beliau meminta kontak whatsapp ku dengan kakak rekan kerjaku tadi. Akupun memberikan kontakku. Sore harinya, doi pun menyapa lewat pesan whatsapp, namun tak ku balas. Akhirnya dia pun langsung menelponku. Dari percapakan lebih kurang 30 menit itu, didapatlah kesimpulan bahwa dia menginginkan seseorang untuk menjadi pendamping hidupnya, dan dia berharap aku mau menjadi seseorang yang dia maksud. Aku tak sedikitpun mengiyakannya waktu itu, disebabkan pikiran dan perasaanku masih kacau balau.

Esok harinya, aku coba sholat untuk meminta keyakinan pada Allah apakah dia yang terbaik untukku. Apakah memang dia yang Allah hadirkan untuk menjadi imamku. Dan berbagai pertanyaan-pertanyaan lainnya. Selain itu, aku pun bertanya pada beberapa orang yang kuanggap bisa memberikan pandangan. Namun, aku sedikit merasa ragu ketika diantara pandangan mereka yang memintaku untuk berpikir lebih dalam lagi.

Sampailah aku pada situasi yang terdesak oleh bayangan yang tak mengenakkan. Aku sadari, aku bukanlah seseorang yang suci bersih tanpa dosa. Aku hanyalah seorang pendosa. Yang dengan dosa itu aku merasa tiada lagi yang dapat kubanggakan dari diriku. Aku takut, ketika aku mengazzamkan diri menjadi makmumnya, sementara aku masih dikelilingi dosa-dosa. Tak hanya itu, aku juga memiliki banyak kekurangan lainnya. Aku tak bisa apa-apa, pikirku dalam hati.

Sampai beberapa hari menjelang lebaran pun, aku masih belum memberikan jawaban padanya. Aku masih ragu dengan diriku. Aku tak dapat membayangkan bagaimana nanti ketika aku tlah menjadi istrinya. Apakah aku bisa menjadi istri yang baik baginya? Ataukah aku hanyalah pen-judge bagi dirinya yang tak sehalaqah denganku.

Yaa.  Aku tau, setiap yang ragu-ragu jangan dilanjutkan. Itulah kenapa aku mekinta keyakinan agar aku bisa mantap menerimanya dan keyakinan bahwa dirinya bisa membawaku pada kebaikan.

Tiga hari menjelang lebaran, doi pun pulang ke Sumatera. Sebelum dia pulang ke rumahnya, dia sempatkan ke rumahku untuk berkenalan dengan papa dan mama, termasuk untuk bertemu wajah denganku. Karena memang, kita belum pernah bertemu langsung.

Malam harinya, doi menanyakan suatu hal yang sejak awal kita kenalan dia sudah menanyakan hal tersebut. "Maukah kau menjadi istriku?"

Allohuu rabbi.. Engkau yang Maha Membolak balikkan hati. Engkau yang menggenggam hati ini, Engkau yang Maha Tahu mana yang terbaik untukku. Hingga akhirnya, dengan segala konsekuensi yang akan aku terima setelah keputusan ini diambil, akupun memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan tersebut. "Iya", keluar dari mulutku. Ini adalah keputusan besar yang pernah aku ambil dalam hidupku. Karena dengannya, status ku nantinya akan berubah. Tugas dan kewajibanku pun akan berubah.

Hari ketiga lebaran, datanglah keluarganya ke rumahku untuk melamar diriku. Ditentukanlah kapan dan bagaimana proses-proses yang akan dijalani oleh dua keluarga yang sebelumnya tak saling mengenal ini.

Sampailah pada kesepakatan, akad akan dilangsungkan pada hari Kamis, 28 Juni 2018.

Ceritanya memang cukup singkat, namun pro kontra terbanyak adalah dalam hatiku sendiri. Jika ku bertahan di balik kenyatannya bahwa diriku adalah seorang perempuan yang terbiasa mendahulukan perasaan ketimbang pikirannya, saat itu aku memilih jalan untuk mengedepankan pikiranku, baru setelahnya aku bertanya pada perasaanku.

Jika cinta menjadi alasan untuk seseorang menikah, aku rasa itu tidaklah benar. Karena, bagiku kesepakatan untuk menjalani hidup bersama dengan cintaNya, malah jauh lebih terasa indah. Begitulah, akhirnya aku memutuskan menikah dengan seseorang yang baru kukenal. Aku berjanji dalam hatiku, takkan ku biarkan hatiku mengecewakan dirinya yang tlah mengambil amanah terbesar dari kedua orang tuaku. Apalagi diri ini hanyalah seseorang yang tengah berusaha menjadi orang baik di mata Allah, dengan perjuangannya yang tak mudah.

Komitmen...


Jumat, 18 Agustus 2017

Mencintai dalam Diam

Sayang...
Tahukah kalimat apa yang ingin selalu kuucapkan saat bertemu denganmu bahkan ketika kita tidak saling bertatap muka?

"Aku cinta kamu"

Kalimat itulah yang ada dalam benakku. Memang benar, aku mencintaimu begitu dalam. Aku meyakini bahwa cinta ini tumbuh karena dirimu begitu dekat denganNya, sang Pemilik Cinta.

Sayang...
Aku kagum padamu yang punya tekad menjadi 'alim dalam beragama.

Tapi, sayang...
Aku takut jatuh hati padamu lebih dini. Aku takut cintaku ini semata cinta nafsu. Aku tidak mau terjerumus dalam buaian cinta yang di hembuskan oleh bisikan setan si musuh nyata kita.

Lebih baik kini, aku memilih cinta dalam diam walaupun itu bukan jalan yang terbaik.

Sayang...
Aku memilih untuk diam, dan lagi diam. Aku memilih untuk tidak mengungkapkan cintaku padamu yang belum tentu jodohku. Hanya lewat doa kukirimkan pesan cinta dan harapanku, kelak semoga kita bisa berjodoh.

Bersabarlah sayang...
Mencintai dalam diam memang sedikit sakit, tapi itu lebih baik daripada kau ungkapkan cinta pada cinta yang salah.

Biarlah doa menjadi alat peredam gemuruh cinta dalam hati kita.

~ Jum'at malam nan indah, sementara hati masih sendu dalam kisah cinta yang belum berujung indah ~

Sabtu, 12 Agustus 2017

Throw Back My Blog

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hai sahabat, udah lama gak ketemu ya.. Ini blog udah penuh sawangan aja.. Hhe

Maklum deh, aku jarang pake bangettt punya mood buat nulis.

Hmm...
Tapi, sekarang aku pikir menulis di blog bisa jadi tempat ku berekspresi dan mengungkapkan segala uneg-uneg ataupun harapan-harapanku. So, buat kamu yang mungkin berkesempatan baca tulisan 'abal-abalku di blog ini, jangan sungkan-sungkan buat kasih komentar dan saran yang membangun agar tulisan aku ke depannya jadi lebih berbobot.. Aseeek

Oke,, malam ini jomblo-jomblo pasti berharap hujan lebat. Tapi sore tadi udah hujan nih di Palembang, kayaknya malam ini bakalan anteng aja cuacanya.. Ya gak apa-apalah ya....
Semoga saja, malam ini tetap sama dengan malam-malam lainnya yakni menjadi malam yang penuh manfaat dan berfaedah.

Malam ini, aku pengen mencoba berteman dengan kata-kata. Ya, tepatnya tentang "TEKAD".
Kita semua setidaknya sudah pernah mendengar bahwa ada dua orang yang diperbolehkan untuk kita iri padanya. Siapa saja mereka? Pertama, orang yang berilmu dan membagikan ilmunya kepada orang lain. Kedua, orang kaya yang dengan hartanya dia berinfak shadaqah. Ternyata, setelah banyak aku melihat sosok yang bermunculan karena dua hal ini, mereka punya satu kunci keberhasilan yakni Tekad yang Kuat.

Tekad? Apa arti dari tekad? Kalo dari hasil pencarianku di google, tekad menurut KBBI adalah kehendak, kebulatan hati. Jika seseorang telah bertekad, artinya di telah bersungguh-sungguh untuk mendapatkan kehendaknya.

Yup, benar adanya jika tekad mempengaruhi hasil kali usaha yang dilakukan seseorang.

Kalo kamu di kalangan mahasiswa, mungkin yang menjadi sorotan adalah mahasiswa berprestasi. Kalo di lingkungan kerja, mungkin bos kita adalah fokus kita. Banyak lagi di media sosial sosok public figure yang dengan segudang prestasinya mampu menyita perhatian kita.

Sebut saja, Wirda Mansur, putri pertama dari Ust. Yusuf Mansur. Usut demi usut dia adalah wanita kelahiran tahun 1999. Jika dibanding dengan tahun kelahiranku, umurnya 4 tahun lebih muda dariku. Lihatlah berapa banyak prestasi yang dia raih. Betapa kemampuan berbahasanya dan jam terbang penampilannya sudah tak diragukan lagi.
Jujur saja, sosok Wirda menyita perhatianku. Hingga malam ini, aku coba memperhatikannya di sebuah video yang diunggah di youtube. Dalam video tersebut, ia tengah sharing dengan jamaah Pengajian yang bertema "Think big" (tema menurut kesimpulanku).  Aku sampai pada kesimpulan bahwa apapun keinginan kita, mulailah dengan berpikir besar atau think big dengan diiringi berpikir positif dan yakin.

Lalu apa hubungannya think big dengan tekad?

Menurut pendapatku, keduanya merupakan dua hal yang sama tapi beda dan saling beriringan demi tercapainya suatu tujuan. Kita perlu tekad yang kuat untuk sampai pada titik tujuan kita. Kita juga perlu berpikir besar untuk bisa percaya bahwa kita bisa mencapai tujuan tersebut.

Belajar dari keutamaan membaca al qur'an, disebutkan dalam qs. Fathir ayat 29-30 bahwa membaca al qur'an merupakan suatu perdagangan yang tak pernah rugi. Pun dalam hadits riwayat Tarmidzi, dijelaskan bahwa membaca satu huruf al qur'an akan mendapatkan 10 kebaikan begitu selanjutnya. Artinya, jika kita membaca al qur'an berarti kita tengah mengumpulkan poin-poin kebaikan. Poin-poin ini dapat kita tukarkan dengan keinginan-keinginan yang lain.  Misalnya, kita ingin naik haji, lanjut kuliah di luar negeri, dan sebagainya.

Allah swt, sudah memberikan kesempatan untuk kita mendapatkan apa yang kita inginkan (sering berinteraksi dengan al qur'an). Al qur'an, mengajarkan kita untuk senantiasa berpikir besar (perdagangan yang ta pernah rugi). Nabi Muhammad saw dalam haditsnya memberikan semangat bahwa "barangsiapa yang bersungguh-sungguh (bertekad) mak kecil mendapat".

Begitulah jalan yang telah diajarkan kepada kita. Tinggal bagaimana kita menyikapi keinginan yang banyak dengan usaha yang telah kita perbuat.

Kesimpulannya, kunci dari keberhasilan atau keinginan yang tercapai adalah dengan cara memperbanyak membaca al qur'an, semakin berinteraksi dengan al qur'an, serta menguatkan tekad.

Semoga, tulisan yang tidak seberapa ini menjadi inspirasi khususnya bagi aku yang tengah mencari tekad yang mulai memudar.

Happy day..
Keep struggle..
Keep and read the holy al qur'an
Want to be hafizhah