Kamis, 26 Maret 2020

Muak

Hari ini fiks bagiku untuk menangisi ketidakberdayaanku atas diriku sendiri. Aku benar-benar berada pada posisi dimana aku tak kuasa untuk mempertahankan keinginanku sendiri. Aku merasa usia yang semakin bertambah tidak menjadikanku bisa berkuasa atas mauku.
Kenapa? Kenapa aku masih saja dicampurtangani oleh kedua orang tuaku? Kenapa keadaan selalu saja tak pernah berpihak padaku? Kenapa aku tidak diberi kesempatan untuk memilih mauku sendiri? Kenapa aku harus selalu menuruti mau mereka?
Ya Allah, sungguh ini tidak adil!
Aku benci dengan keadaan seperti ini.
Mulai dari aku tamat kuliah, menikah, memilih pekerjaan, hingga punya anak. Kenapa masih saja mereka yang mengatur.
AKU TIDAK SUKA!!!
Sekali saja aku menyatakan mauku apa, dibilanglah aku tidak tahu apa-apa. Kenapa mereka begitu arogan? Bukankah semua saran mereka tak melulu harus kuikutin?
AKU MUAK!!!

Kamis, 30 Januari 2020

Melahirkan Maziya

Assalamualaikum wr wb...

Hari ini ku mau bercerita tentang aku yg akhirnya terlahir kembali menjadi seorang ibu. Rasanya bahagia banget ketika ku menuliskan ini semua. Semoga dengan ini aku semakin bersyukur atas segala nikmat dan amanah yg Allah berikan padaku khususnya.

...

Di januari 2019, ku mulai merasakan tanda-tanda kehamilan. Mulai dari hasil tespack yg menunjukkan garis dua, lalu di minggu selanjutnya aku merasakan morning sickness. Hingga kehamilan pun tampak jelas dengan perutku yg semakin membesar.
...

Berdasarkan perhitungan melalui HPHT dan USG pertama kali aku di UK 16W, perkiraan lahiran (HPL) aku pada tanggal 16 Oktober 2019. Hingga hari itu tiba, tanda-tanda persalinan pun belum tampak. Aku mulai khawatir dan deg degan sembari berusaha menenangkan diri. Karena yang aku tahu bahwa HPL adalah hari perkiraan lahir, bukan hari pasti lahir ataupun hari paksa lahir. Dari berbagai sumber disebutkan bahwa kurang lebih 4% saja dari ibu hamil yang melahirkan sesuai dengan hari perkiraan lahirnya.
Di sebuah grup  whatsapp, aku bertemu dengan seorang kakak yang saat itu tengah hamil juga dan memiliki HPL yang sama denganku. Aku dengannya saling sharing. Terlebih aku sebagai calon ibu pemula yang belum punya pengalaman apa-apa. Kita berdua sama-sama mulai khawatir ketika HPL tiba, namun tak satupun dari kami yang tampak hendak melahirkan. Selain itu, aku juga memohon dukungan dan doa dari teman-temanku yang menanyakan apakah aku sudah lahiran atau belum.
Hari Sabtu tanggal 19 Oktober 2019, pagi harinya suamiku mengajak pergi USG yang bertujuan untuk mengecek kondisi kandunganku yang sudah lewat HPL dan berkonsultasi dengan dsog mengenai upaya apa saja yang bisa dilakukan hingga persalinan tiba. Menurut observasi dokter, keadaan kandunganku baik semua. Dokter memberiku waktu hingga tanggal 23 Oktober 2019 untuk menantikan waktu persalinan. Tanggal 21/22 Oktober 2019, aku diminta untuk datang kembali dengan membawa surat rujukan. Setibanya nanti di rumah sakit, dokter bisa observasi lalu menentukan tindakan apa saja yang hendak diambil. Aku mulai dag dig dug tak karuan. Aku merasa sangat takut sekali jika berujung dengan operasi. Aku belum bisa membayangkan bagaimana sakitnya nanti dan proses pemulihannya yang ku tahu lebih lama dibandingkan dengan lahiran normal. Kami pun pulang dengan pikiran masing-masing. Suamiku berusaha menguatkan apapun yang terjadi semoga menjadi yang terbaik untuk aku dan bayi kami.
Sore hari ketika aku sedang duduk santai di rumah, bidan yang biasa tempat ku kontrol kandungan datang. Beliau menanyakan kondisi kandunganku. Beliau juga mengatakan bahwa ia tergerak datang ke rumah karena belum mendapatkan kabar lahiran dariku. Sebelumnya aku memang sudah memutuskan untuk melakukan persalinan di Polindes tempat beliau bekerja. Aku lalu menceritakan semua saran yang disampaikan oleh dokter tadi pagi. Lalu aku disuruh untuk meminta surat rujukan ke puskesmas hari Senin, dan kembali lagi ke rumah sakit seperti yang disarankan dsog. Setelah memberikan penguatan padaku, buk bidan pun pulang.
Malam harinya aku sedang tidak bersama suamiku. Suamiku pergi pulang ke rumah ibunya untuk mengerjakan beberapa hal disana. Mumpung sendiri, bisa bersosial media lebih lama. Hheee.. Akupun chattingan dengan seorang temanku yang sudah duluan lahiran. Akupun menceritakan kondisi kandunganku. Lalu dia menyarankan beberapa hal yang bisa aku usahakan agar segera lahiran mengingat UK aku sudah memasuki 40w4d. Kita bisa lakukan induksi alami untuk merangsang agar terjadinya kontraksi menuju persalinan, ujarnya. Aku mengucapkan terima kasih dan meminta didoakan untuk kelancaran persalinanku.
Usai chattingan akupun beranjak tidur. Aku ambil air wudhu' kemudian berdo'a agar dimudahkan persalinan nanti dilanjutkan dengan do'a sebelum tidur.
Sekitar jam 2 dini hari, aku mulai merasakan pegal-pegal di pinggang. Kucoba untuk menahannya dengan berbolak balik diatas kasur, sesekali rasa itu hilang, sesekali datang lagi. Entah kenapa iseng saja pikiranku kalau itu namanya kontraksi, namun masih belum menyadari kalau itu adalah tanda-tanda hendak melahirkan. Kucoba gunakan aplikasi penghitung kontraksi, akan tetapi aku malah ketiduran sehingga hitungannya pun tak akurat.
Tak lama kemudian, pegal-pegal yang disertai nyeri itu datang lagi. Aku memutuskan untuk bangun lalu melaksanakan shalat tahajud yang kupikir waktu itu adalah solusi untuk menghilangkan pegal-pegal tersebut. Rakaat demi rakaat, ternyata pegal-pegal tersebut masih terasa dan akupun memilih untuk membaca surat yang cukup panjang sambil berusaha untuk khusyu' agar aku tak merasakannya lagi.
Selesai shalat, akupun mencoba untuk tidur kembali. Namun, sepertinya rasa pegal-pegal yang disertai nyeri tersebut tak bisa diajak kompromi. Alhasil, aku hanya bisa membolak balikkan badan diatas kasur untuk sekedar menghilangkan nyerinya.
Hingga shubuh pun tiba, aku masih terjaga dengan nyeri yang intervalnya lebih intens dibandingkan tengah malam tadi. Seperti biasa, aku dan mama pergi shalat shubuh ke masjid dengan berjalan kaki, hitung-hitung sebagai ganti olahraga aku. Adapun rasa nyeri itu masih saja terasa. Aku masih tetap berusaha untuk bertahan. Aku juga belum mengatakannya pada mama.
Sepulang dari masjid, mama mengajakku dan adik pergi melihat jalan yang baru dibangun yang dapat menghubungkan jorong kami hingga ke Nagari Kubang. Akupun mengiyakan, lagi-lagi ini sebagai ikhtiar aku menjelang persalinan tiba. Perjalanannya cukup jauh. Sementara aku sesekali masih merasakan nyeri tersebut. Dan anehnya, nyeri itu sangat terasa jika aku hanya berdiam diri. Tapi jika kubawa bergerak, nyerinya pun hilang. Kami bertiga terus berjalan dengan santai sampai di tempat tujuan kami. Setelah berfoto beberapa kali cekrek, aku merasakan nyeri yang semakin intens jika berdiam diri. Akupun mengatakan pada mama dan adikku. Kami pun kembali pulang. Sebelum sampai di rumah, kami mampir di sebuah warung untuk membeli gorengan. Yaa maklum, sehabis jalan kan jadinya lapar. Hhee
Sesampainya di rumah, kami pun istirahat. Aku coba duduk untuk melepas lelah berjalan dengan membawa beban di perut yang semakin besar. Menurut hasil USG, perkiraan berat janinku waktu itu sekitar 3,3 Kg. Setelah sarapan, maunya aku bersantai ria. Sayangnya, nyeri di pinggang tak kunjung hilang. Aku bawa berjalan lagi mengelilingi halaman rumah untuk menghilangkan nyeri tersbeut. Setelah terasa hilang, akupun duduk untuk istirahat. Akan tetapi tak lama duduk, nyeri itu datang lagi. Aku berjalan kembali mengitari halaman rumah. Begitulah terjadi hingga waktu zuhur tiba.
Ada satu hal yang sebenarnya harus ku kerjakan, yakni mengisi rapor MID Semester 1. Waktu itu nilai yang belum masuk tinggal satu mapel. Saat aku hendak mengerjakannya, rasa nyeriku kembali datang. Dan akhirnya aku pun tak bisa mengerjakannya lagi.
Sekitar jam 8 pagi, suamiku pulang. Kukatakan kalau aku sekarang sering merasakan nyeri di pinggang. Aku disuruh untuk tiduran. Lalu ku katakan bahwa aku tak bisa tidur nyenyak karena nyeri itu terasa kalau aku hanya berdiam diri, sedangkan jika aku bergerak seperti dibawa jalan maka nyeri itu akan hilang.
Sepanjang menahan rasa nyeri tersebut, aku coba menguasai diri dengan beranggapan bahwa ini nyeri biasa bukan kenapa-kenapa. Aku masih saja belum mengetahui bahwa itu tanda-tanda hendak melahirkan. Sebagai penghilang nyeri aku berjalan mengitari halaman rumah sembari berdzikir dan membaca surat-surat hafalanku. Sesekali aku duduk karena lelah. Namun yaaa seperti itu, nyeri yang dirasa semakin intens sehingga aku tak cukup waktu untuk istirahat.
Hingga waktu zuhur tiba, mama menyuruhku untuk menghubungi bu Nofi, bidan yang biasa memeriksa aku. Aku disuruh ke tempat bidan untuk mengecek keadaan aku. Barulah disitu aku menyadari bahwa aku hendak melahirkan. Kemudian aku pergi ke kamar mandi untuk mandi. Sewaktu buang air kecil terlihat ada lendir berwarna kecoklatan. Lho, kok bisa begitu pikirku.
Selesai mandi, mama bertanya apakah aku kuat untuk sholat lalu kujawab aku kuat. Justru dengan sholat nyeri itu hilang, sambungku. Selesai sholat aku makan namun aku tak bisa duduk. Aku makan sambil jalan-jalan. Maafkan aku ya Allah, rilihku dalam hati.
Lalu kami pun bersiap-siap hendak ke polindes. Saat kami bersiap-siap hendak ke Polindes, mama berpesan pada abang untuk mengabarkan keadaan ku. Jika sudah waktunya melahirkan, nanti hospital bag ku akan diantarkan kesana. Kami pun berangkat. Bismillah, ucapku dalam hati.
Sesampainya di Polindes, bu Nofi memintaku untuk masuk ke ruang persalinan untuk diVT. Setelah dicek ternyata sudah bukaan 4. Masyaallah, sebentar lagi aku akan melahirkan. Lagi-lagi aku masih belum menyangka akan menghadapi hal yang mempertaruhkan nyawa ini. Lalu abang mengabarkan hal itu pada mama.
Datanglah mama dan papa membawa hospital bag ku. Setelah dipikir-pikir,aku tak jadi balik ke rumah. Aku memilih tetap di tempat bidan hingga bukaan lengkap. Aku lalu terus berjalan di samping polindes tersebut agar bukaan segera lengkap. Sambil berjalan itu, papa mengingatkan aku untuk makan. Lalu pergilah abang membeli sate. Akupun makan sate itu sembari disuapin abang dan tetap berjalan karena nyeri yang tak mengizinkan aku untuk duduk.
Hingga waktu ashar pun tiba, aku beranjak sholat. Saat itu aku masih sanggup untuk sholat. Dengan keadaan yang tak bisa lama-lama dalam satu posisi, akupun tak bisa memperpanjang sholatku. Selesai sholat, bidan pun melakukan vt kembali. Ternyata bukaannya terus menambah menjadi 7. Bidan pun mengatakan agar menunggu hingga bukaan lengkap. Setelah itu aku sudah tak sanggup lagi untuk berjalan. Akupun disuruh untuk tidur miring ke kiri. Aku berusaha untuk tetap mengatur nafas agar nyerinya tidak terlalu terasa.
Sampailah waktu maghrib tiba, aku sudah tak sanggup lagi untuk sholat. Saat itu bidan melihat perutku seperti penuh hendak buang hajat. Lalu beliau menyuruhku untuk ke kamar mandi bila ingin BAK atau BAB. Lalu akupun pergi ke kamar mandi meskipun tak ada keinginan untuk buang hajat. Eh entah kenapa sesampai di kamar mandi aku malah ingin BAB, yang artinya aku pasti mengejan sementara bidan berpesan agar aku jangan mengejan dulu sebelum waktunya tiba. Hhaa.. Ternyata aku salah kaprah. Mengejan saat BAB dengan saat melahirkan pastinya beda dong. Saat itu aku mendengar ada suara dentuman bak kaca yg pecah. Entahlah itu suara apa, pikirku.
Selesai buang hajat, aku kembali ke kamar persalinan. Kemudian bidan pun melakukan VT kembali dan ternyata bukaannya sudah lengkap dan aku sudah waktunya untuk melahirkan. Bu bidan pun menelvon teman bidannya untuk membantu prose persalinanku.
Sesampainya di polindes, temannya bu bidan pun melakukan vt. Dan ternyata kepala si bayi masih jauh menggantung dari jalan lahir. Aku disuruh untuk tidur miring ke kiri. Beliau mengatakan untuk menunggu hingga jam 9 malam, jika si baby belum juga turun ke jalan lahir maka aku akan dirujuk ke RSKIA. Lalu beliau pun kembali ke rumahnya.
Sekitar jam 7 malam, bu bidan melakukan vt kembali dan ternyata kepala si baby sudah turun. Beliau lalu menelvon kembali teman bidannya. Beberapa saat kemudian, beliau meminta abang untuk menjemput temannya bu bidan.
Tak lama setelah itu, semua peralatan sudah siap, pakaian si baby pun sudah disiapkan, dan aku diminta untuk mengumpulkan nafas dan tenaga agar bisa mengejan. Dalam kurun waktu lebih kurang 15 menit dengan empat kali mengejan, akhirnya my baby girl terlahir ke dunia.
Aku mengejan amat kuat di kali terakhir, akibatnya si baby langsung keluar dengan kondisi tali pusar yang pendek. Hmm, apa karena tali pusar yang pendek ini yang membuat setiap makanan yang kumakan tidak lagi terserap oleh tubuhku, melainkan banyak disalurkan ke si baby? Karena selama hamil, bentuk body ku masih kurus2 gitu aja, tidak seperti ibu-ibu yang lain yang kelihatan gemuk saat hamil. But, dari kesemua itu aku tetap bersyukur akhirnya drama melahirkan pun berakhir dengan nyaman walaupun dapat bonus jahitan yang cukup banyak.

...

Alhamdulillah, akhirnya aku dapat menghembuskan nafas dengan lega. Abang, mama, papa, adikku semuanya terlihat bahagia atas kelahiran anggota keluarga baru kami.

...

Aku belajar banyak hal dari momen yang tak terlupakan ini. Aku berjanji takkan berbuat hal yang dapat menyakiti hati kedua orang tuaku, terkhusus pada mama yang telah berjuang melahirkanku dulu.

Semoga Allah membalas semua amal baik dan perjuangan mama dan papa. Aamiin.