Jumat, 25 Januari 2019

Tunggu Bunda Ya, Nak

Assalamualaikum anak Bunda tersayang...

Apa kabar dirimu disana? Bunda harap dirimu baik-baik saja ya. Bunda yakin saat ini dirimu tengah tersenyum menatap Bunda yg masih berproses untuk merelakan kepergianmu sayang.

Nak, hari ini tanggal 25 ya. Bunda ingat empat bulan yg lalu di tanggal yg sama Bunda datang ke sebuah klinik di Payakumbuh. Saat itu Bunda mengeluhkan soal flek darah yg keluar beberapa hari. Bunda takut dan cemas waktu itu. Bunda takut sekali nak, jika terjadi apa-apa pada dirimu. Bunda yakin kamu tahu betul bagaimana perasaan Bunda saat itu.

Bak petir di siang bolong, ucapan dokter yg memvonis bahwa janin Bunda tidak berkembang membuat tulang belulang Bunda remuk seketika, nak. Bunda sedih, hati Bunda hancur nak. Kebahagiaan Bunda terenggut seketika. Bunda merasa kecewa pada diri Bunda sendiri. Mungkinkah semuanya karena Bunda tak bisa menjagamu dengan benar? Maafkan Bunda ya nak. Kebersamaan sepertinya takkan berlangsung lama. Itu yg Bunda rasakan meski belum sepenuhnya dirimu akan pergi begitu saja. Bunda berusaha untuk tetap tegar menghadapi kenyataan. Bunda masih punya harapan di dua pekan ke depan. Bunda masih berharap kamu akan baik-baik saja nak.

Namun, apa yg hendak dikata nak. Keesokan harinya Bunda merasakan sakit di sekitaran perut dan pinggang Bunda. Kekhawatiran Bunda memuncak. Dan ternyata itu adalah tanda bahwa dirimu akan pergi meninggalkan Bunda selamanya.
Maafkan Bunda nak. Saat itu Bunda tak berani melihat wujudmu hingga Bunda tak sempat menguburkan dirimu. Bunda sedih, kecewa, menyesal, dan semua rasa yg bercampur aduk membuncah di hati Bunda.

Bunda menangis saat itu, nak. Kau pasti lihat airmata Bunda melepas kepergianmu kan?

Bunda larut dalam kesedihan, terlebih saat itu Bunda harus berjuang sendiri menanggung sesak di dada Bunda. Kala itu ayahmu masih di perantauan untuk mencari nafkah buat kita nak. Maafkan juga ayahmu nak yg tak mendampingi kepergianmu.

Anakku, dengan terus mengupayakan pikiran yg jernih, Bunda berusaha untuk menerima takdir ini nak. Bunda tak ingin dirimu bersedih karena Bunda menyesali keadaan yg menimpa kita.

Sehari setelah kepergianmu, saat itu dibuka pendaftaran CPNS. Bunda mencoba menguatkan diri Bunda. Bunda daftarkan diri untuk mengikuti seleksi itu, meskipun pikiran dan raga Bunda masih jauh melayang menyusul kepergianmu. Bunda bertekad untuk bangkit dari keterpurukan. Kau lihat kan betapa Bunda bersemangat waktu itu? #senyum

Ketika proses pendaftaran hingga seleksi yg Bunda lewati dan membuahkan hasil dengan kelulusan Bunda, banyak kalimat yg terlontar dari teman-teman Bunda bahwa semua ini adalah rejekinya dirimu.

"Selamat ya, ini rezeki dedek dalam perut"

Nak, kau tahu. Kalimat serupa yg Bunda terima sungguh menyayat hati Bunda nak.
Bunda kembali teringat saat bahagia Bunda melihat hasil positif testpack dan hasil usg bahwa dirimu hadir di rahim Bunda. Namun sayang sekali, ketika Bunda lulus CPNS ini, kau sudah tiada nak. Bunda takkan menyalahkan siapapun lagi. Karena Bunda yakin, semuanya adalah takdir Allah. Akan slalu ada hikmah di setiap kejadian yg menimpa kita. Kehadiran dan kepergianmu tlah menjadikan Bunda untuk selalu husnuzhan pada takdir Allah.

Bunda harap dirimu ikut bahagia dengan berita ini ya nak. Tunggu Bunda disana. Doakan Bunda nak agar Bunda segera dikaruniai adik-adikmu yg shalih dan shalihah yg nantinya akan menjadi temanmu di syurga Allah.

Tunggu Bunda ya nak...

Allohummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu anhu.
_____
25 September 2018
25 Januari 2019
Penuh cinta Bunda untukmu ananda tersayang. 💕💕💕

Tidak ada komentar: