Senin, 13 Juni 2016

Bila Aku Jatuh Cinta, Maka...?


Siapa sangka dirinya bisa jatuh cinta. Mulai tumbuh pada dirinya rasa menyukai, menginginkan perhatian khusus, dan lain sebagainya. Mungkin akan menjadi hal aneh bila seseorang tak pernah merasakan hal demikin.
Adakah yang salah?
Jawabannya tidak, karena itu adalah fitrahnya manusia.
Namun kita perlu hati-hati dengan keadaan seperti ini. Jangan biarkan diri kita berdalih karena ini fitrah, sehingga kita merasa nyaman dan akhirnya terjerumus pada hal-hal yang tidak diinginkan.

Allah perintahkan kita:
"Jangan dekati zina..."
di ayat lain,
"Tundukkan pandanganmu dan jagalah kemaluanmu"

Kenapa Allah memerintahkan kita sedemikian rupa? Ingat, kita punya musuh yang sangat nyata yang tidak akan membiarkan kita berada di jalan yang benar. Dia akan selalu memanfaatkan kesempatan untuk menjerumuskan manusia pada jurang kemasiatan.

"Pandangan adalah panah yang beracun, yang merupakan salah satu panahnya iblis". (Hadits Riwayat Ahmad dan Al Hakim).

Wanita tampak sangat cantik di depan laki-laki, dan laki-laki tampak tampan sehingga wanita yang melihatnya menjadi jatuh hati. itulah pekerjaan syaitan. 
Pandangan di antara keduanya dibuat menjadi senyuman, kemudian beralih menjadi percakapan, kemudian berganti menjadi janjian yang pada akhirnya berubah menjadi pertemuan. Dan begitulah hingga mereka pun saling jatuh cinta.

Ketika mereka jatuh cinta, banyak memilih jalan pintas untuk mengekspresikan cintanya. Mereka memilih yang disebut dengan 'pacaran'. Memiliki hubungan yang lebih dekat daripada sekedar teman, namun bukan pasangan suami istri. 
Katanya, dengan pacaran mereka punya seseorang yang selalu menyemangatinya, seseorang yang mengajak maka bareng, seseorang yang selalu mengingatkan makan, tidur, shalat, seseorang yang sealu ada untuk dirinya dan lain sebagainya yang mereka sebut keuntungan punya pacar.

Jika kita mau berpikir lebih rasional lagi, bukankah hal demikian sudah kita dapatkan dari orang tua kita masing-masing? Dari teman dan sahabt pun kita bisa dapatkan itu semua.
Ya, semoga saja pertanyaan ini sempat terlintas di benak kita dan menjadi bahan renungan kita semua.

Biasanya jika kita pacaran, suatu saat ada kemungkinan untuk putus. Kenapa bisa terjadi demikian? Karena hati kita punyai pemilik. Kita punya sang pemilik Hati yang Maha Membolak balikkan hati kita. Bagaimanapun kita cinta pada seseorang, *pacar kita, suatu saat bisa jadi kita sangat membencinya. Pun sebaliknya.

"Cintailah seseorang dengan sederhana, karena bisa jadi suatu saat dia menjadi orang yang kamu benci.
Bencilah seseorang dengan sederhana, karena bisa jadi suatu saat dia menjadi orang yang sangat kamu cintai"

Akankah kita tetap menyatakan cinta kita padanya?
Sebuah kisah menunjukkan apa yang mesti kita lakukan ketika kita jatuh cinta. Kisah jatuh cintanya Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Az zahra, putri kesayangan Rasulullah.
Siapa yang berkata bahwa kisah cintasejati terbaik di muka bumi ini adalah roman antara Romeo dan Juliet karya William Shakepeare, sesungguhnya belum pernah mendengar kisah cinta Ali bin Abi Thalib RA, sang pemuda cekatan yang cinta akan ilmu dan putri Sang Rasulullah Sallahu ‘alaihi Wasallam sendiri, si wanita tegar yang lembut, Fatimah Az zahra. Pasti, karena kisah Romeo dan Juliet tak lebih dari sebuah roman yang dilukis di atas kertas. Berbanding terbalik dengan kisah yang dilandasi iman dan cinta pada Allah Subhanahu wata’alla dan ini benar-benar terjadi sekitar 14 abad silam menghiasi indahnya langit jazirah Arab pada masa itu.
Cinta Ali pada Fatimah bukan cinta konyol yang bisa dengan mudah terlontar begitu saja, namun sebuah cinta yang dihiasi proses kedewasaan di balik umurnya yang masih muda. Cinta yang disimpannya begitu rapat, yang ia sendiri tak yakin itu cinta, sampai suatu saat perasaannya diuji.
Ada seorang lelaki luar biasa datang kepada Rasulullah. Seorang sahabat yang membenarkan peristiwa Isra’ mi’raj Rasulullah dan oleh karenanya diberi gelar oleh Rasulullah “ash-siddiq”. Ya, Sahabat yang lahir dengan nama Abdullah bin Abi Quhafah, atau lebih dikenal sebagai Abu Bakar Ash-Siddiq, telah melamar putri Sang Rasul. Hati Ali bergetar, namun tak serta merta membuatnya bergerak tak terarah.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Ali sadar, bahwa kedudukan Abu Bakar jauh lebih baik dari dirinya. Walaupun Abu bakar bukan kerabat dekat Nabi seperti Ali, namun hal itu tidak penting. Karena cinta Abu Bakar pada Rasulullah begitu besar. Ia yang menemani Rasulullah ketika hijrah, dan rela kakinya diracuni seekor ular dan menahan perihnya tanpa bersuara agar Rasulullah tidak terjaga dari tidurnya hingga air matanya tanpa ia sadari menetes ke pipi nabi. Sedangkan Ali merasa tidak sebanding dengan itu yang hanya menggantikan Rasulullah di tempat tidurnya. Ia sudah rela jika memang jodoh Fatimah adalah abu bakar ia siap untuk mundur, karena inilah ukhuwah yang jauh lebih indah dari cinta yang dirasanya sekarang. Ia lebih mendahulukan kebahagiaan Fatimah atas cintanya. Namun ternyata lamaran Abu  Bakar di tolak.
Benih-benih cinta itu mulai bersemai kembali, dalam diam dan tenang ia mempersiapkan diri. Kelak suatu saat waktunya akan tiba. Dalam diam ia tetap menjaga cintanya. Ya, dalam diamnya pada dunia. Tidak mengumbar apa yang ada di hatinya. Cukup keheningan seperempat malam terakhir dan tahajudnya yang tahu akan cintanya pada sang putri Rasul.
Lagi-lagi cintanya di uji, kini seseorang yang tak kalah luar biasa kembali datang menghadap Rasulullah dan menyatakan niat untuk melamar Fatimah. Lelaki yang jikalau syeitan mendengar langkah kakinya maka ia akan lari terbirit birit. Sang Al Farruq, Umar ibn Al Khattab. Pembeda antara hak dan yang bathil. Lelaki yang membuat dakwah Islam jauh lebih terbuka dan terang terangan. Memang, jika dibanding dengan Ali, Umar termasuk yang terakhir memeluk Islam. Tapi semangatnya mengejar ketinggalan, dan gegap gempita sabetan pedangnya yang konon hanya sanggup dibawa oleh sepuluh orang ini membuat Ali kecut. Lagi-lagi Ali meng-itsar-kan cintanya pada saudara nya Umar. Ia yakin Fatimah akan jauh lebih aman bersama Umar. Dan ia ridha akan itu.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan, Yang ini pengorbanan
Lagi-lagi lamaran ini di tolak. Ali bingung, lelaki seperti apa yang diidamkan Rasulullah menjadi menantunya. Siapa kiranya yang pantas menjadi pendamping Fatimah, dua sahabat terbaik yang datang tak menemukan apa yang diinginkan. Ali jadi ragu, akankah ia bisa? Dibuang jauh-jauh perasaan itu, ia maju ke medan peperangan cinta ini. Karena cinta tak menanti, ia ada jika kesempatan mempersilakan, dan Ali mengambil kesempatan itu. Dengan modal harta yang apa adanya ia datang, hanya seperangkat baju besi yang biasa ia pakai berperang menjadi modalnya. Ia sampaikan tujuan nya pada Rasulullah. Nabi tersenyum kecil, dan berkata “Ahlan wa sahlan”. Lamaran bersambut.
Ali lah yang memenangkan peperangan ini. Ia bukan berperang dengan abu bakar atau Umar dalam memperebutkan sang gadis pujaan. Lebih besar lagi, ia berperang melawan hawa nafsunya. Ia memenangkan hatinya sendiri, dari keraguan dan bisikan keputusasaan. Dalam ujian hati ini, ia terus diam. Tak ada salah tingkah, tak ada syair-syair rindu, tak ada ratap sedih kegalauan. Ia menang dan maju sebagai lelaki sejati, menawarkan cinta berlandaskan keimanan pada sang Ayah Fatimah.
Akhirnya Ali menikahi Fatimah. Tanpa janji-janji, tanpa penantian yang tak berujung, tanpa harapan kosong yang dengan mudah diumbar. Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? Dan Siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”
Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah putri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”
Sahabatku, inilah cinta sejati, inilah cinta yang hakiki. Cinta yang disimpan dalam-dalam di ruang hati, hanya Sang Pemilik cinta yang tahu akan rasa itu. Mungkin ia gadis yang kita cintai, atau pemuda itu yang kita dambakan. Namun, sungguh tak perlu rasanya ia tahu sebelum masanya tiba. Biarlah ia menunggu, sebagaimana Fatimah menunggu hadirnya cinta yang ia nanti. Atau jika kau lebih berani, jadilah Ali. Yang tak mengumbar janji dan maju melamar sang bidadari. Wallahu’alam.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/12/25197/kisah-cinta-sejati/#axzz4BTM48Ntp
 
Selain mencintai dalam diam dan menunggu cinta itu datang pada waktunya, solusi terbaik lainnya jika kau tengah jatuh cinta adalah sesuai dengan hadits Rasulullah, "solusi bagi dua insan yang tengah jatuh hati tidak lain adalah 'menikah'." Pabila diri belum mampu untuk menikah, maka berpuasalah. Karena puasa mampu membendung syahwat dan hawa nafsu.

Sobatku,, jangan takut jatuh cinta. Tapi takut lah jika salah menempatkan cinta. Namun, sebaik-baik dalam mencintai adalah membangun cinta dengan pasangan hidup kita yang telah halal.
Untuk saat ini,, yuk perbaiki diri dulu agar kelak menjadi pribadi yang baik dan utama. :) nh



Tidak ada komentar: